"Mahasiswa apa?" Oleh Nizarur Rahman

Mahasiswa Apa?
Nizarur Rahman, Alumni UIN Maliki Malang
(Mahasiswa Pascasarcana Universitas Gajah Mada)
Menjadi siapa,bagaimana dan mengapa pertayaan yang terjadi ketika Mahasiswa sudah terlibat dari diskusi, penelitian dan orgasnisai. Di tinjau dari konteks bahasa Subject pelaku dari apa yang akan di kerjakan sedangkan object apa yang di lakukan pada pelaku. Pilihan seperti itu sudah terjadi dan terlalu banyak jawaban yang menjadikan sebuah analisis dari Mahasiswa sendiri. Akantetapi, jawaban yang sesuai dengan pembahasan sesuai konteks sekarang telah mengalami keburamaan akan kepastian dari apa dan tujuan dari pelaku. Jika mahasiswa berkaitan dengan era digital dan globalisasi tentu keburaman itu telah terjadi di sekarang ini. Mahasiswa telah bertransfromasi menjadi dewa yang dapat menciptakan apa yang seharusnya di produksi di dalam teknlonogi dan sains.
Kehawatiran ini mejadikan sebuah pertayaan dan keresehaan mental dan fisik terhadap beban mahasiswa yang telah berkompeten dalam bidang teknologi dan sains. Teryata, Mahasiswa telah menjadi sebuah Object jika mereka hanya merasakan keresehan dan kehawatiran saja terhadap isu-isu saat ini. Jika mahasiswa mepunyai pena untuk meberikan tinta emas terhadap isu-isu saat ini dan itu menjadikan upaya untuk kehadiran mahasiswa di ekonomi, politik dan budaya. Globalisasi dan digital menjadi satu bentuk dari kemoderatan sebuah pemikiran dan perbuataan seperti mahasiswa dan teknologi. Sesungguhnya, masa itu telah terjadi di era post industrial di barat, yang menyebabkan pergersaran pemikiran terhadap Nature menjadi Technology dan mempengaruhi respon manusia terhadap kejadian-kejadian yang terjadi di masyarakat. Akantetapi, Mahasiswa teryata belum dapat menjadikan sebuah kemudahan, keefektifan dan keefisiensi untuk berkonstribusi di penelitian pendidikan.
Masalah muncul ketika pertayaan itu mengikuti era yang terjadi pada abad 21, manakah yang penting mahasiswa atau teknologi. Teryata, kedua poin itu melebur menjadi satu degan tujuan yang sama menjadikan tidak ada perbedaan di kedua kata tersebut. Jika kita memandang kata itu di era Postmodernism. Ketika percepatan waktu dan teknologi semakin tidak terlihat maka rasionalitas akan menjadi universal. Mahasiswa dan teknologi menjadi pusat dari apa yang manusia butuhkan jika  peryataan itu terjadi maka mahasiswa hanya menjadi nama tanpa badan yang tak dapat di nilai sudut mana apapun.
Sesungguhnya, memudahkan mereka berkonstribusi untuk pribadi dan cepat bersaing untuk memberikan invovasi di segala bidang di pendidikan. Itu menjadi peryataan yang terjadi di akhir kesimpulan sebuah analisis pendidikan yang telah berubah dari tradisional menjadi modern. Bukan persaingan mana yang cepat dan tepat dalam memberikan konstribusi yang terjadi di mahasiswa dan pendidikan akantetapi apa yang akan di lakukan mahasiswa terhadap fenomena di abad sekarang ini. Masikah pendidikan terbatas dari penelitian kualitatif dan kuantitatif di akhir perkulihan.
Jika budaya telah melebur menjadi masalah pendidikan, maka mahasiswa akan terlibat dalam bentuk apapun di dalamnya. Sehingga mahasiswa mendapatkan esensi dari apa yang mereka pelejari di dalam kelas. Karenah kebudayaan itu erat dengan prilaku dan kehidupan manusia. Itu sebagai bahan awal mahasiswa untuk merespon dari apa yang terjadi di fenomena sosial dan bisa di kembangkan lebih luas untuk dapat mencakup kesempuranaan di dalam sebuah penelitian. Apapun bentuk dari fenomena sosial dan budaya yang terjadi di dalam kehidupan masyrakat dapat menjadi hubungan di antara mahasiswa dan masyrakaat.
Digital atau teknologi adalah faktor pendukung dari mahasiswa untuk berkonstribusi dan menciptakan kemudah menselesaikan permasalahan. Post industrial telah terjadi di periode masa lalu dan muncul periode yang di sebut Postmodernism. Periode ini telah mengubah pola kebudayaan masayrakat terhadap kecenderungan teknologi yang cepat dan luas. Tanda-tanda dari efek post industrial barat teryata mengeser dan mengubah pola masyrakat tradisional di dalam kehidupan. Moral Value yang telah di yakini masyrakat tradisional di dalam cerita mitosnya dulu, sekarang sudah tidak nampak karenah esesnsi nilai cerita mereka tidak dapat muncul dan tidak sebanding dengan kemajuan rasionalitas manusia.
Sehingga, makna dari kehidupan masyarakat tradisional dulu telah hilang di gantikan ke universal di dalam makna yang sekarang. Sama halnya dengan makna dari mahasiswa yang telah berubah menjadi universal. Jika mahasiswa di kategorikan pendidikan paling tinggi dan makna itu telah bertanformasi di berbagai bentuk makna yang berhujung kepada universal dan ke abstrakan makna dari mahasiwa itu sendiri. Perguruan tinggi dulu masih menjadi primadona dari siswa untuk meneruskan pendidikanya di berbagai universitas. Sekarang mereka lebih memandang itu lebih sekedar kegiatan yang berulang dan mirip seperti sekolah.
Titik temu itu tidak akan nampak jika kehidupan manusia telah terhubung di berbagai dan semua media telah terbuka untuk siapapun dan kapapnpun. Mahasiswa dapat menentukan dan hanya pribadi mereka yang di untungkan?. Teknik atau taktik yang menjadi pilihan mahasiswa untuk menyelesaikan makna mereka sendiri.
Jombang, 25-juni-2018

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Struktur Organisasi IMJ UIN Maliki Malang Periode 2017-2018

IMJ UIN Malang Periode 2018-2019

Pelantikan Pengurus IMJ Periode 2017-2018